Budi Majid Blogs
Berbagi Informasi Hidup dan Kehidupan
Selasa, 27 Agustus 2019
LEBAH LIAR DAN LEBAH TERNAK
Kita tentu tahu bahwa secara garis besar ada dua jenis madu yang dijual di pasaran. Yaitu madu hutan dan madu budidaya. Keduanya berbeda dari jenis lebah yang menghasilkannya.
Madu hutan berasal dari lebah liar yang hidup bebas di alam belantara, sedangkan madu budidaya berasal dari lebah yang sengaja dipelihara oleh para peternak. Secara umum, madu hutan harganya tentu lebih mahal dari madu budidaya.
Jadi, jika kita ingin agar karya kita dihargai lebih mahal oleh orang lain, cobalah ikuti jejak lebah liar, jangan menjadi lebah ternak melulu. Bagaimana sifat-sifat mereka?
Lebah liar itu mencari makan di alam bebas. Ia bisa hinggap di bunga mana saja yang memang tumbuh di hutan. Sedangkan lebah ternak hanya menghisap dari satu jenis bunga saja yang memang disediakan oleh peternaknya, seperti bunga randu atau bunga kelengkeng.
Maka jika kita ingin tumbuh, belajarlah dari mana saja. Seraplah ilmu dari banyak orang dengan berbagai bidang yang memang berhubungan dengan aktivitas kita. Menghisap pengalaman hanya dari satu orang saja akan menyebabkan pikiran kita tidak terbuka.
Berkaca kepada Al-Imam Syafi'i, beliau adalah ulama multidisiplin. Sejak muda telah belajar sastra kepada Syeikh Muslim bin Khalid Az-Zanji, kemudian menguasai fiqih dalam bimbingan Al-Imam Malik. Siapa sangka beliau juga ahli dalam kedokteran.
Dalam kitab Syi'ar A'lam Nubala tertulis salah satu keluh kesah beliau mengapa pemuda-pemuda muslim tak bersemangat menguasai ilmu kedokteran,
لا أعلم علما بعد الحلال والحرام أنبل من الطب إلا أن أهل الكتاب قد غلبونا عليه.
“Setelah ilmu tentang halal dan haram, sepanjang yang saya tahu tak ada yang lebih berharga dibanding ilmu kedokteran. Akan tetapi Yahudi dan Nasrani telah mengalahkan kita."
Sifat berikutnya dari lebah liar adalah membuat sarangnya sendiri. Mereka terbiasa bersusah payah membangun sarang di atas pohon, ataupun dalam celah-celah perbukitan.
Sedangkan lebah ternak hidup dengan manja. Para peternak sudah menyediakan sarang-sarang dari kotak kardus atau papan untuk tempat tinggal mereka.
Jadi, untuk menjadi pribadi sukses kita harus terbiasa hidup mandiri. Jangan sedikit-sedikit disediakan sama orang tua. Segala sesuatu perlu diraih dengan susah payah, bukan hanya menengadah tangan kepada orang lain.
Oleh karena itu, keep learning and keep moving merupakan slogan yang harus kita ubah menjadi tindakan, hingga kita bisa menghasilkan karya sebaik madu hutan.
Salam Hijrah.
:alarm_clock: Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!
Senin, 26 Agustus 2019
CITA-CITA ITU SEBENARNYA TAK TERBATAS, KECUALI KITA SENDIRI YANG MEMBATASI
Untuk kebutuhan iklan komersial, sebuah perusahaan makanan melakukan percobaan dengan beberapa orang. Menarik sekali untuk mengetahui ekspresi dari orang-orang tersebut yang sebelumnya tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Ceritanya, sebuah toko pakaian memberi voucher dengan harga khusus pada pelanggannya. Namun pada hari yang ditentukan dalam voucher, tiba-tiba toko pakaian itu hanya menyediakan satu jenis pilihan saja. Hanya kaos hitam berukuran XL.
Merasa pilihannya dibatasi seperti itu, mereka kemudian kesal dan meminta bicara dengan pimpinan toko. Ternyata pimpinan yang keluar adalah seorang anak kecil.
Anak itu berkata, "Seperti itulah bagaimana perasaan kami ketika pilihan kami dibatasi oleh orang tua kami."
Tayangan iklan tersebut memberi pesan secara halus agar kita para orang tua jangan membatasi anak dan mempersempit pilihan mereka, sehingga mereka tidak tahu betapa banyak kesempatan di luar sana yang sebenarnya bisa diraih.
Berapa banyak orang tua yang tidak pernah memperkenalkan anaknya kepada masjid, dan mengajak mereka shalat berjamaah. Tak sedikit pula orang tua yang tidak membuka kesempatan anaknya belajar mengaji, karena mereka terlalu sibuk sehingga anak-anak tak pernah diantarkan kepada guru ngaji.
Akibatnya anak tidak tahu Al-Quran, tidak kenal masjid, sehingga tidak sadar bahwa sebenarnya menjadi seorang saleh itu merupakan kesempatan yang terbuka pula bagi mereka.
Akibatnya anak tidak tahu bahwa mereka sebenarnya bisa menjadi dokter yang hafizh Quran, atau menjadi ustadz sekaligus pengusaha, atau menjadi arsitek yang ahli hadist.
Seolah-olah di luar sana dokter dan arsitek adalah sebuah pilihan, sedangkan hafizh dan ustadz adalah sebuah pilihan yang lain. Kesempatan mereka menjadi demikian sempit, karena sejak kecil orang tuanya tanpa sadar membatasi pilihan mereka.
كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikan Yahudi, Nasrani atau Majusi.”
(Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, sudah menjadi tugas setiap orang tua untuk memperkenalkan anak-anak kepada nilai-nilai Islam yang mulia, agar mereka tahu bahwa mereka bisa menjadi apapun yang mereka inginkan sekaligus sebagai mukmin yang saleh.
Salam Hijrah.
:alarm_clock: Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!
Minggu, 25 Agustus 2019
RAHASIA SANG AYAH
Syahdan pada suatu siang yang terik tersebutlah dua musafir yang sedang dalam perjalanan. Mereka berdua adalah ayah dan anaknya. Ketika melewati sebuah gubuk yang usang sang ayah berhenti sejenak,
"Anakku, mari kita singgah di rumah ini. Siapa tahu ada yang bisa kita bantu."
Mereka mengetuk pintu rumah yang tampak tidak terawat itu hingga seorang lelaki muncul membukakan pintu,
"Maaf tuan, kami sedang dalam perjalanan. Di luar panas sekali, bolehkah kami istirahat sejenak di sini?"
"Silahkan masuk. Tapi maaf saya tak punya apa-apa, paling hanya bisa menyuguhkan air putih saja."
Rupanya lelaki itu hidup dalam keadaan kekurangan. Di dalam rumah pun tak tampak apa-apa kecuali hanya sebatang pancingan. Sang ayah yang penasaran bertanya kepadanya tentang hal tersebut,
"Pancingan ini adalah tumpuan hidupku. Setiap pagi aku memancing ikan di sungai untuk konsumsi sehari-hari. Kalau ada hasil lebih, kadang aku jual ke pasar. Tapi tak seberapa harganya. Itulah sebabnya keadaanku tetap miskin seperti ini." Kata lelaki tersebut.
Setelah istirahat, kedua musafir berpamitan dan melanjutkan perjalanan mereka. Tiba-tiba di tengah jalan sang ayah berniat kembali ke gubuk kecil tersebut.
Anehnya, ia berjalan mengendap-endap, menunggu saat si lelaki lengah, kemudian masuk secara sembunyi ke gubuk tersebut dan keluar lagi secepatnya. Anaknya hanya merasa heran dengan perbuatan ayahnya itu, namun ia tak berani bertanya.
Singkat cerita, satu tahun berlalu sang ayah kembali mengajak anaknya melewati jalan itu. Namun mereka tak menemukan gubuk rusak yang dulu pernah disinggahi.
Tepat di lokasi tersebut hanya ada sebuah toko besar dan lengkap yang menjual aneka kebutuhan pokok. Mereka pun mendekat, dan alangkah terkejutnya ternyata toko tersebut milik si lelaki yang dulu menjamu mereka di dalam gubuknya.
"Maaf Tuan, apakah betul Tuan adalah pemilik gubuk miskin di lokasi ini? Apa yang terjadi hingga Tuan bisa sukses seperti sekarang?"
"Dulu aku hanya bergantung pada hasil memancing. Lalu suatu hari pancinganku patah, sehingga aku tak bisa mengandalkan ikan lagi. Maka terpaksa aku mencari jalan usaha yang lain." Lelaki tersebut menjelaskan,
"Aku mengawali dengan menjualkan barang-barang milik seorang teman. Lambat laun penjualanku bagus sehingga aku bisa merintis toko sendiri kecil-kecilan dan begitulah seterusnya hingga toko ini sebesar sekarang."
Setelah mendengar kisahnya, lantas mereka melanjutkan perjalanan lagi. Hingga di suatu tempat sunyi, sang ayah memberi tahu suatu rahasia kepada anaknya,
"Nak, ketahuilah dulu ketika ayah mengendap-endap masuk ke gubuknya, ayahlah yang mematahkan pancingan miliknya!"
Anaknya terkejut. Lalu sang ayah meyakinkan alasannya bahwa pancingan tersebut adalah penyebab kemiskinannya. Ia hidup seolah dunia ini hanya sepanjang batang pancingnya, maka pancingan tersebut memang harus dipatahkan agar ia berani bangkit mengambil jalan yang lebih bermakna.
Dalam hidup ini, kita semua memiliki pancingan yang berbeda-beda. Namun dampaknya sama saja seperti yang terjadi pada lelaki di atas, yaitu menjadi sebuah penjara bagi pikiran sehingga kita takut bertindak.
Temukanlah pancingan hidup kita masing-masing, kemudian patahkan pancingan tersebut!
مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu, dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(Surat Fathir: 2)
Salam Hijrah.
:alarm_clock: Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!
Sabtu, 24 Agustus 2019
ALLAH MAHA ADIL
"Ya Rabb, izinkanlah aku melihat bagaimana keadilan-Mu bekerja," pinta Nabi Musa.
"Hai Musa, engkau tak akan punya kesabaran untuk melihat keadilan-Ku," firman Allah kepadanya.
"Aku akan berusaha untuk bersabar,"
"Jika demikian, datanglah engkau pada sebuah mata air, dan perhatikan saja apa yang terjadi di sana."
Maka sesuai perintah Allah, pergilah Nabi Musa ke mata air yang ditunjuk dan ia mengamati dari kejauhan. Kemudian datang seorang penunggang kuda dan kantong uangnya terjatuh di sekitar mata air.
Lalu datang lagi seorang anak kecil, melihat kantong uang tergeletak di sana, anak itu lantas mengambilnya.
Berikutnya datang seorang lelaki buta ke tempat tersebut, dan secara kebetulan penunggang kuda yang tadi kembali pada waktu yang sama. Tentu saja ia menuduh bahwa lelaki buta itu yang mengambil kantong uangnya. Maka lelaki buta dibunuh olehnya.
Kini tertinggal Nabi Musa yang terheran-heran menyaksikan semua kejadian itu. Maka Allah mengutus malaikat Jibril untuk menerangkan segalanya.
Bahwa dahulu si penunggang kuda ternyata memiliki utang kepada ayahnya si anak, maka Allah mengatur agar kantung uangnya berpindah ke tangan anak itu dengan jumlah yang tepat sesuai utangnya.
Bahwa dahulu ayah si anak itu ternyata pernah dizalimi oleh lelaki buta hingga meninggal dunia. Maka Allah mengatur agar lelaki buta itu kemudian berakhir hidupnya seperti perbuatannya sendiri. Inilah keadilan Allah.
Sepenggal fragmen dalam kehidupan Nabi Musa di atas menerangkan pada kita bahwa keadilan Allah pasti berlaku di muka bumi ini, dengan waktu yang paling tepat di sisi-Nya. Oleh karena itu bersikaplah baik selalu pada semua orang. Hindari perbuatan zalim.
وَأَقْسِطُواْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
"Dan berlakulah adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."
(Surat Al-Hujurat: 9)
Janganlah pula ragu. Bila saat ini kita merasa tidak memperoleh keadilan, sesungguhnya yang kita perlukan hanya kesabaran. Akan datang saatnya Allah membalas setiap manusia dengan seadil-adilnya.
Perhatikan bagaimana rezim Fir'aun yang kekuasaannya sangat kuat, dan rakyat jelata dibuatnya begitu lemah. Atas kehendak Allah, rakyat tak berdaya di bawah pimpinan Nabi Musa kemudian diizinkan mampu membuat Fir'aun dan bala tentaranya tenggelam tak berkutik.
Padahal yang dilakukan Nabi Musa hanya menghunuskan tongkat ke tanah. Bagaimana bisa? Karena sesungguhnya keadilan Allah sedang bekerja. Ada saatnya yang kuat menjadi lemah, dan sebaliknya.
Pada beberapa negara juga kita saksikan rezim pemerintah mereka memimpin dengan cara yang tidak bijaksana. Rakyat yang lemah hanya bisa mengelus dada tanpa sanggup berbuat apa-apa.
Atas kehendak Allah, rakyat tak berdaya itu kemudian diizinkan mampu membuat rezim tersebut dan bala tentaranya tenggelam tak berkutik.
Padahal yang dilakukan mereka hanya menusukkan paku ke kertas pemilu. Bagaimana bisa? Karena sesungguhnya keadilan Allah sedang bekerja. Ada saatnya yang lemah menjadi kuat, dan sebaliknya.
Hal ini adalah bukti bahwa Allah Maha Adil. Jadi, tak perlu khawatir dengan perbuatan orang lain kepada kita. Kezaliman, kecurangan, dan lain-lain, semua akan berjalan mengikuti kehendak-Nya. Sebaliknya, khawatirlah jika selama ini kita yang masih berbuat tidak baik kepada orang lain.
Salam Hijrah.
:alarm_clock: Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!
"Hai Musa, engkau tak akan punya kesabaran untuk melihat keadilan-Ku," firman Allah kepadanya.
"Aku akan berusaha untuk bersabar,"
"Jika demikian, datanglah engkau pada sebuah mata air, dan perhatikan saja apa yang terjadi di sana."
Maka sesuai perintah Allah, pergilah Nabi Musa ke mata air yang ditunjuk dan ia mengamati dari kejauhan. Kemudian datang seorang penunggang kuda dan kantong uangnya terjatuh di sekitar mata air.
Lalu datang lagi seorang anak kecil, melihat kantong uang tergeletak di sana, anak itu lantas mengambilnya.
Berikutnya datang seorang lelaki buta ke tempat tersebut, dan secara kebetulan penunggang kuda yang tadi kembali pada waktu yang sama. Tentu saja ia menuduh bahwa lelaki buta itu yang mengambil kantong uangnya. Maka lelaki buta dibunuh olehnya.
Kini tertinggal Nabi Musa yang terheran-heran menyaksikan semua kejadian itu. Maka Allah mengutus malaikat Jibril untuk menerangkan segalanya.
Bahwa dahulu si penunggang kuda ternyata memiliki utang kepada ayahnya si anak, maka Allah mengatur agar kantung uangnya berpindah ke tangan anak itu dengan jumlah yang tepat sesuai utangnya.
Bahwa dahulu ayah si anak itu ternyata pernah dizalimi oleh lelaki buta hingga meninggal dunia. Maka Allah mengatur agar lelaki buta itu kemudian berakhir hidupnya seperti perbuatannya sendiri. Inilah keadilan Allah.
Sepenggal fragmen dalam kehidupan Nabi Musa di atas menerangkan pada kita bahwa keadilan Allah pasti berlaku di muka bumi ini, dengan waktu yang paling tepat di sisi-Nya. Oleh karena itu bersikaplah baik selalu pada semua orang. Hindari perbuatan zalim.
وَأَقْسِطُواْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِيْنَ
"Dan berlakulah adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."
(Surat Al-Hujurat: 9)
Janganlah pula ragu. Bila saat ini kita merasa tidak memperoleh keadilan, sesungguhnya yang kita perlukan hanya kesabaran. Akan datang saatnya Allah membalas setiap manusia dengan seadil-adilnya.
Perhatikan bagaimana rezim Fir'aun yang kekuasaannya sangat kuat, dan rakyat jelata dibuatnya begitu lemah. Atas kehendak Allah, rakyat tak berdaya di bawah pimpinan Nabi Musa kemudian diizinkan mampu membuat Fir'aun dan bala tentaranya tenggelam tak berkutik.
Padahal yang dilakukan Nabi Musa hanya menghunuskan tongkat ke tanah. Bagaimana bisa? Karena sesungguhnya keadilan Allah sedang bekerja. Ada saatnya yang kuat menjadi lemah, dan sebaliknya.
Pada beberapa negara juga kita saksikan rezim pemerintah mereka memimpin dengan cara yang tidak bijaksana. Rakyat yang lemah hanya bisa mengelus dada tanpa sanggup berbuat apa-apa.
Atas kehendak Allah, rakyat tak berdaya itu kemudian diizinkan mampu membuat rezim tersebut dan bala tentaranya tenggelam tak berkutik.
Padahal yang dilakukan mereka hanya menusukkan paku ke kertas pemilu. Bagaimana bisa? Karena sesungguhnya keadilan Allah sedang bekerja. Ada saatnya yang lemah menjadi kuat, dan sebaliknya.
Hal ini adalah bukti bahwa Allah Maha Adil. Jadi, tak perlu khawatir dengan perbuatan orang lain kepada kita. Kezaliman, kecurangan, dan lain-lain, semua akan berjalan mengikuti kehendak-Nya. Sebaliknya, khawatirlah jika selama ini kita yang masih berbuat tidak baik kepada orang lain.
Salam Hijrah.
:alarm_clock: Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!
Jumat, 23 Agustus 2019
YANG MUDA YANG ISTIMEWA
Dzulqarnain, Imran, Luqman, Thalut, adalah sebagian dari nama orang-orang saleh yang dikisahkan dalam Al-Quran, meskipun mereka bukan termasuk golongan dari 25 Nabi dan Rasul. Sudahkah kita menceritakan kehidupan mereka pada anak-anak di rumah?
Salah satunya tentang Thalut, pemuda cerdas ini patut sekali keberaniannya diteladani oleh anak kita. Bermula dari datangnya masyarakat kepada seorang Nabi pada zaman Bani Israil, untuk bertanya kepadanya siapakah yang akan memimpin mereka.
Saat itu masyarakat membutuhkan figur pemimpin untuk melawan raja Jalut yang zalim. Maka Sang Nabi yang berusia lanjut itu atas petunjuk Allah memilih pemuda gagah bernama Thalut seperti disebut dalam surat Al-Baqarah ayat 247.
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا
Nabi mereka mengatakan, "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi pemimpinmu."
Awalnya tampak keheranan bagi mereka mengapa lelaki muda itu yang harus memimpin? Kalau bicara usia, Nabi mereka lebih tua. Jika bicara ilmu, Nabi mereka pun lebih alim. Terlebih lagi si pemuda bukan dari kalangan mereka sendiri.
Tetapi demikianlah keadilan Allah, bahwa kepemimpinan diserahkan kepada para pemuda, sedangkan para ulama sepuh tetap dalam tugasnya mengayomi dan mengajar umat.
Maka berangkatlah Thalut bersama kaumnya untuk melawan raja zalim tersebut. Al-Imam Ibnu Qatadah menyebutkan jumlah mereka enam puluh ribu orang. Termasuk di dalam barisan itu seorang remaja bernama Daud, yang kelak setelah dewasa menjadi Nabi pilihan Allah.
Di tengah perjalanan mereka diuji dengan aliran sungai yang tak boleh diminum padahal tengah kehausan yang sangat. Sebagian besar tak sanggup menerima ujian itu, hingga tersisa empat ribu orang saja.
Akhirnya mereka yang masih bertahan ini berhadapan dengan raja zalim dan bala tentaranya hingga diberi kemenangan oleh Allah. Adapun raja zalim itu berakhir hidupnya oleh Daud yang berusia paling belia di antara semua orang yang hadir pada waktu itu.
Sekali lagi Allah memperlihatkan bagaimana peran pemuda dalam suatu negeri. Padahal awalnya kehadiran Daud diragukan oleh mereka, namun ternyata justru karena usianya itulah Daud menjadi berbeda dari yang lain.
Demikianlah salah satu kisah dalam Al-Quran yang mengagumkan. Apabila anak-anak kita mendengar cerita ini, tentu tumbuhlah kepercayaan diri mereka dan kebanggaan mereka dalam membela agama Allah.
Salam Hijrah.
:alarm_clock: Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!
Salah satunya tentang Thalut, pemuda cerdas ini patut sekali keberaniannya diteladani oleh anak kita. Bermula dari datangnya masyarakat kepada seorang Nabi pada zaman Bani Israil, untuk bertanya kepadanya siapakah yang akan memimpin mereka.
Saat itu masyarakat membutuhkan figur pemimpin untuk melawan raja Jalut yang zalim. Maka Sang Nabi yang berusia lanjut itu atas petunjuk Allah memilih pemuda gagah bernama Thalut seperti disebut dalam surat Al-Baqarah ayat 247.
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا
Nabi mereka mengatakan, "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi pemimpinmu."
Awalnya tampak keheranan bagi mereka mengapa lelaki muda itu yang harus memimpin? Kalau bicara usia, Nabi mereka lebih tua. Jika bicara ilmu, Nabi mereka pun lebih alim. Terlebih lagi si pemuda bukan dari kalangan mereka sendiri.
Tetapi demikianlah keadilan Allah, bahwa kepemimpinan diserahkan kepada para pemuda, sedangkan para ulama sepuh tetap dalam tugasnya mengayomi dan mengajar umat.
Maka berangkatlah Thalut bersama kaumnya untuk melawan raja zalim tersebut. Al-Imam Ibnu Qatadah menyebutkan jumlah mereka enam puluh ribu orang. Termasuk di dalam barisan itu seorang remaja bernama Daud, yang kelak setelah dewasa menjadi Nabi pilihan Allah.
Di tengah perjalanan mereka diuji dengan aliran sungai yang tak boleh diminum padahal tengah kehausan yang sangat. Sebagian besar tak sanggup menerima ujian itu, hingga tersisa empat ribu orang saja.
Akhirnya mereka yang masih bertahan ini berhadapan dengan raja zalim dan bala tentaranya hingga diberi kemenangan oleh Allah. Adapun raja zalim itu berakhir hidupnya oleh Daud yang berusia paling belia di antara semua orang yang hadir pada waktu itu.
Sekali lagi Allah memperlihatkan bagaimana peran pemuda dalam suatu negeri. Padahal awalnya kehadiran Daud diragukan oleh mereka, namun ternyata justru karena usianya itulah Daud menjadi berbeda dari yang lain.
Demikianlah salah satu kisah dalam Al-Quran yang mengagumkan. Apabila anak-anak kita mendengar cerita ini, tentu tumbuhlah kepercayaan diri mereka dan kebanggaan mereka dalam membela agama Allah.
Salam Hijrah.
:alarm_clock: Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!
Kamis, 22 Agustus 2019
THE SPIRIT OF SAMURAI
Jika mendengar kata Samurai, apa yang pertama kali terlintas di pikiran kita? Tentu sebilah pedang yang panjang dan melengkung khas Jepang.
Padahal istilah Samurai awalnya bukan dipakai untuk senjata, melainkan untuk seorang petarung. Samurai adalah nama bagi seorang petarung dari kalangan militer di abad pertengahan Jepang. Samurai bekerja untuk tuannya yang disebut Daimyo, atau terkadang mereka bekerja sendiri yang disebut Ronin.
Seorang Samurai menduduki tempat terhormat di mata masyarakat. Bisa dibilang mereka adalah bangsawan dari kalangan militer.
Seorang Samurai adalah ksatria yang gagah berani. Kemampuan bela dirinya bisa setara dengan sepuluh prajurit biasa. Mereka juga terpelajar. Dan ciri khas yang paling menonjol adalah, bertarung dengan penuh kode etik.
Maka, seorang Samurai tak akan menyerang diam-diam, atau melawan musuh yang sudah tidak berdaya. Spirit sebagai seorang Samurai benar-benar melambangkan keberanian dan integritas.
Keberadaan para Samurai mulai berkurang seiring dengan berakhirnya abad pertengahan. Untuk terus menghidupkan spirit yang penuh nilai luhur dari para ksatria ini, maka lambat laun pedang Katana yang biasa mereka gunakan akhirnya disebut sebagai Samurai.
Jadi, jika Samurai merujuk kepada nama para prajurit militer di masa lalu, sesungguhnya mereka semua telah tiada. Tetapi jika Samurai yang dimaksud adalah semangat petarung sejati, maka semangat tersebut terus hidup tertanam dalam sebilah pedang-pedang tajam dari Jepang.
Tak ubahnya dengan Ramadhan. Apakah yang disebut dengan Ramadhan? Jika merujuk kepada nama sebuah bulan yang berada di antara Sya'ban dan Syawal, berarti Ramadhan adalah bulan suci yang sekejap lagi akan meninggalkan kita semua.
Tetapi jika Ramadhan yang dimaksud adalah gaya hidup seorang muslim sejati, yang senantiasa melawan hawa nafsunya. Spirit sebagai mukmin yang menghidupkan siang malamnya dengan ibadah kepada Allah.
Maka ketahuilah, semangat tersebut terus hidup tertanam dalam hati setiap orang beriman.
Terima kasih duhai bulan mulia, kemarin engkau datang mengajarkan kami arti berjuang. Kini engkau berpisah setelah kami mengerti arti menjadi hamba. Secara zahir engkau memang pergi, tetapi secara hakiki engkau akan selalu bersama kami. Amiin.
KETIKA AKSESORI MEWAH TAK BERFUNGSI
Pakaian sudah rapi dan necis, persiapan yang lain dipastikan tak ada yang tertinggal, waktunya saya berangkat menuju lokasi. Tinggal memakai jam tangan saja.
Saat itu pilihan jatuh pada salah satu koleksi Ben Sherman yang saya miliki. Pertimbangannya, karena akan mengisi materi di hadapan para manager dan kepala bagian.
Berarti perlu aksesori yang mahal dan asli. Jam tangan yang diperoleh langsung dari London itulah yang paling pas. Tanpa pikir panjang lagi, selingkar jam mewah langsung melekat di pergelangan tangan saya.
Ketika acara berlangsung, dalam keadaan berada di tengah-tengah orang ramai, baru saya sadari bahwa jam yang saya kenakan mati! Celaka, bisa malu kalau orang lain tahu bahwa saya pakai jam yang tidak berfungsi!
Mungkin saja baterainya habis, atau ada kemungkinan lain, tidaklah penting. Yang jelas saat itu saya merasa harus menyembunyikan jam tangan tersebut sebelum ada orang yang menyadari. Apalah arti barang mewah, kalau tidak berguna.
Saya merasa seolah-olah seperti membawa rongsokan yang ingin sekali saya tutup-tutupi. Sesuatu yang mahal bagaimanapun, kalau tak berperan lagi seperti layaknya, tentu hanya akan mengonggok dan merongsok. Hari itu saya mengalami sendiri.
Pernahkah kita merenungkan, betapa banyaknya barang-barang mahal yang kita bawa setiap hari. Kedua mata, kedua telinga, lisan, dan aneka panca indera. Bukankah semuanya bernilai tinggi? Beranikah kita menjual kedua mata ini seharga satu miliar? Tentu tidak. Berarti harganya memang mahal sekali.
Lalu bagaimana perasaan kita saat barang-barang mewah ini ternyata tidak berguna? Tidakkah kita malu membawa-bawa barang yang tak ada fungsinya? Kedua mata yang sejatinya berperan untuk membaca Al-Quran, serta melihat hal yang baik dan halal, justru tidak dimanfaatkan untuk perkara tersebut.
Itu baru mata. Belum lagi telinga, lisan, bahkan akal pikiran. Semua anggota tubuh kita diciptakan Allah dengan fungsi dan peran masing-masing, yang mendekatkan diri kepada-Nya. Namun, kini seakan-akan kita hanya membawa rongsokan, karena panca indera ini setiap hari hanya menjauhkan kita dari-Nya. Astagfirullah.
Saudaraku, marilah mulai menanamkan rasa malu kepada Allah. Malu bahwa ternyata aneka karunia yang mewah ini tidak berfungsi. Ingin sekali kita tutup-tutupi sebelum ada yang menyadari. Tetapi Allah Maha Mengetahui.
Marilah mulai manfaatkan beragam anugerah ini agar berguna kembali sesuai perannya. Sehingga kita memiliki jawaban pada hari ketika Allah meminta pertanggungan jawab atas seluruh barang-barang yang bernilai tinggi ini. Seperti tersebut dalam surat An-Nur ayat 24,
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Pada hari ketika lisan, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."
Salam Hijrah.
:alarm_clock: Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!
Saat itu pilihan jatuh pada salah satu koleksi Ben Sherman yang saya miliki. Pertimbangannya, karena akan mengisi materi di hadapan para manager dan kepala bagian.
Berarti perlu aksesori yang mahal dan asli. Jam tangan yang diperoleh langsung dari London itulah yang paling pas. Tanpa pikir panjang lagi, selingkar jam mewah langsung melekat di pergelangan tangan saya.
Ketika acara berlangsung, dalam keadaan berada di tengah-tengah orang ramai, baru saya sadari bahwa jam yang saya kenakan mati! Celaka, bisa malu kalau orang lain tahu bahwa saya pakai jam yang tidak berfungsi!
Mungkin saja baterainya habis, atau ada kemungkinan lain, tidaklah penting. Yang jelas saat itu saya merasa harus menyembunyikan jam tangan tersebut sebelum ada orang yang menyadari. Apalah arti barang mewah, kalau tidak berguna.
Saya merasa seolah-olah seperti membawa rongsokan yang ingin sekali saya tutup-tutupi. Sesuatu yang mahal bagaimanapun, kalau tak berperan lagi seperti layaknya, tentu hanya akan mengonggok dan merongsok. Hari itu saya mengalami sendiri.
Pernahkah kita merenungkan, betapa banyaknya barang-barang mahal yang kita bawa setiap hari. Kedua mata, kedua telinga, lisan, dan aneka panca indera. Bukankah semuanya bernilai tinggi? Beranikah kita menjual kedua mata ini seharga satu miliar? Tentu tidak. Berarti harganya memang mahal sekali.
Lalu bagaimana perasaan kita saat barang-barang mewah ini ternyata tidak berguna? Tidakkah kita malu membawa-bawa barang yang tak ada fungsinya? Kedua mata yang sejatinya berperan untuk membaca Al-Quran, serta melihat hal yang baik dan halal, justru tidak dimanfaatkan untuk perkara tersebut.
Itu baru mata. Belum lagi telinga, lisan, bahkan akal pikiran. Semua anggota tubuh kita diciptakan Allah dengan fungsi dan peran masing-masing, yang mendekatkan diri kepada-Nya. Namun, kini seakan-akan kita hanya membawa rongsokan, karena panca indera ini setiap hari hanya menjauhkan kita dari-Nya. Astagfirullah.
Saudaraku, marilah mulai menanamkan rasa malu kepada Allah. Malu bahwa ternyata aneka karunia yang mewah ini tidak berfungsi. Ingin sekali kita tutup-tutupi sebelum ada yang menyadari. Tetapi Allah Maha Mengetahui.
Marilah mulai manfaatkan beragam anugerah ini agar berguna kembali sesuai perannya. Sehingga kita memiliki jawaban pada hari ketika Allah meminta pertanggungan jawab atas seluruh barang-barang yang bernilai tinggi ini. Seperti tersebut dalam surat An-Nur ayat 24,
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Pada hari ketika lisan, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."
Salam Hijrah.
:alarm_clock: Waktunya bangun dan berubah dari tidur panjang kita!
Langganan:
Postingan (Atom)



